Bahaya Memiliki Imajinasi Negatif

Imajinasi Negatif

Banyak diantara kita ingin bisa, ingin berdaya, ingin kaya, ingin serba ada, tapi percaya sekali diri sendiri tak layak, tak berharga, tak mampu.

Ini seperti mendaki gunung dengan memanggul beban berat setelah hujan turun dengan alas kaki sendal jepit. Sudah pasti jalan licin dan sering kepleset.

Makanya orang seperti ini selalu gagal mencapai goals, selalu jadi korban/diperdaya/dimanfaatkan orang lain. Setinggi dia berada, akhirnya jatuh lagi.

Baca sampai tuntas agar tahu dari mana perasaan tak layak itu dan share bila bermanfaat. Sekali lagi, share bila bermanfaat agar ilmu tidak berhenti di diri sendiri.

Tidak sedikit diantara kita yang merasa iri dengan pencapaian orang lain, menganggap wajar rasa iri itu bahkan sebagian menjadikan semacam cambuk agar bisa sukses.

Teorinya begini, imajinasi kita atau apa pun yang kita pikirkan menjadi goals bagi tindakan. Memikirkan tempat kerja saat berangkat dari rumah artinya menjadikan tempat kerja sebagai goals.

Itu contoh sederhana.

Saat seseorang membayangkan kecoa, bisa karena takut, maka saat masuk ke kamar mandi dia mencari kecoa alias mata menelisik setiap penjuru apakah ada kecoa atau tidak.

Saat seseorang merasa iri, tak sadar dia percaya bahwa dia berada di posisi rendah sedangkan orang lain di posisi tinggi.

Memang bisa saja karena itu dia bekerja agar bisa setara, tapi imajinasi “aku di posisi rendah” membuatnya selalu ada di situasi itu.

Percaya bahwa “aku di posisi rendah” atau kita sebut inferior tak sadar menjadi goals pikiran agar berada di posisi itu.

Maka berapa pun uang yang didapat, selalu habis lagi bahkan habis dipakai orang lain, kembali membenarkan “aku di posisi bawah”.

👍 TRENDING :   BAYANGKAN Anda Adalah Seorang Pengusaha Yang Sukses

Ada kasus seseorang sukses sampai bisa menyekolahkan anak ke luar negeri, tapi dia menderita sakit diabetes sehingga bergantung ke obat-obatan. Membenarkan imajinasi “aku selalu di bawah.”

Hal yang menarik, meskipun keras dia bekerja, tapi membawa perasaan “aku selalu di bawah” sehingga untuk mendapatkan hasil tertentu, murni menggunakan otot alias kerja sangat keras.

Sebab tak sadar menentang imajinasinya sendiri.

Dengan kata lain, pangkal kegagalan itu adalah IRI. Sepanjang memendam rasa iri, sepanjang itu percaya “aku ada di bawah.”

Pastikan teman-teman memilih memaafkan diri sendiri, menerima diri sendiri apa adanya, serta memilih mencintai diri setulus hati.

Lihat kaca lalu ucapkan, aku mengasihimu (sebut nama sendiri), aku menyesal, maafkan aku, terima kasih.

Itulah salah satu cara melepas rasa iri, membebaskan pikiran dari imajinasi “aku ada di bawah” sehingga sukses mudah didapat.

Jadi imajinasi 100 juta bukan sekedar membayangkan angka itu, tapi melepas imajinasi negatif yang melekat di pikiran.

Wallahu’alam.
Sumber : Telegram Ahmad Sofyan Hadi