Cara Terbaik Untuk Melepas Beban Hidup

Melepas Beban Hidup
Saat mengalami pukulan pertama, reaksi kebanyakan kita -dan ini alamiah- adalah menolak. Yap, menolak bisa berarti “ini tidak sakit” “aku kuat” atau “aku berusaha lepas.”

Sebutlah pasangan menghabiskan uang tanpa ada hasilnya, benar-benar habis. Padahal kebutuhan rutin belum terpenuhi, sementara gajian masih lama.

Maka himpitan ini berusaha ditolak, “aku tidak mau mengalami kesulitan ini!” Lalu berusaha mencari income tambahan, memutar otak agar kebutuhan terpenuhi.

Benar seperti itu?

Lalu apa rasanya?
Apa yang terjadi kemudian?
Terhimpit juga kan?

Semakin terhimpit semakin menolak, badan semakin terjepit, tagihan mulai berdatangan, anak merengek mulai menekan, jiwa semakin marah dan berontak, “aku tak mau seperti ini!”

Lalu terus berdoa, terus berusaha, tapi tetap saja, hati MENOLAK keadaan ini.

Sekarang, sudahlah.

Jangan ditolak, tapi terima dulu. Akui dulu. Maafkan diri dulu.

“Ya Allah, saya terima kegagalan saya. Saya terima kelemahan saya. Saya akui hidup saya sulit, saya akui hidup saya susah. Saya akui beban ini rasanya berat ya Allah.”

“Ya Allah, saya mohon ampun padaMu karena merasa diri ini kuat, padahal kekuatan adalah dariMu. Saya mohon ampun merasa bisa menyelesaikan masalah dengan kekuatan sendiri, padahal solusi itu datangnya dariMu.”

“Ya Allah, saya serahkan masalah ini kepadaMu, saya serahkan anak-anakku kepadaMu, saya serahkan tagihan yang jatuh tempo ini kepadaMu, saya serahkan harga diri saya kepadaMu.”

“Saya ikhlas bila harus dicaci maki atau dipermalukan, saya ikhlas bila mesti lelah bekerja atau menahan lapar. Saya terima ya Allah, saya ikhlas.”

‘Ya Allah Yang Maha Kaya Maha Memelihara. Saya titipkan diri ini kepadaMu, saya titipkan keluarga saya kepadaMu, saya titipkan masa depan kami kepadaMu.”

👍 TRENDING :   Bahaya Memiliki Imajinasi Negatif

“Hamba memilih ikhtiar sebagai wujud ibadah kepadaMu, maka terimalah amal ibadah hamba ya Allah.”

Astaghfirullahaladzim (berulangkali, sampai lega).

Perlahan, hati menjadi tenang seperti diam di tempat semestinya. Itulah keikhlasan, hati tidak punya beban apa-apa. Lalu pikiran mulai damai, semakin terang.

“Allah bersama saya, Dia memelihara saya. Dia Maha Mencintai hambaNya, Dia memelihara hambaNya.”

Lalu lihatlah kaca, lihat diri sendiri, lalu ucapkan.

“Terima kasih cinta, kamu telah menemaniku sejauh ini. Aku kagum dengan kesetiaanmu, aku kagum dengan pembelaanmu, aku kagum dengan ketulusanmu.”

“Aku mengasihimu, aku menyesal, maafkan aku, terima kasih.” (Ucapkan berulang sampai lega).

Alhamdulillah, rasanya himpitan itu lepas, beban itu hilang, dan hidup terasa tenang. Bila ada lintasan pikiran negatif, segera istighfar lalu ucapkan:

“Bersama Allah saya bisa, saya memilih bisa, jangan-jangan saya bisa, bisa saja saya bisa, saya sepertinya bisa, saya memilih bisa, saya bisa.”

Lalu bayangkan orang yang dianggap penyebab kesusahan hidup lalu ucapkan, “Ya Allah, ampuni dia, muliakan hidupnya, ringankan bebannya.”

“Aku mengasihimu, aku menyesal, maafkan aku, terima kasih.” (Berulang sampai lega.”

Alhamdulilah, akhirnya semakin lega bukan?

Jadi, bila ada masalah, terima dulu ya. Jangan ditolak, terima dulu, akui dulu, maafkan diri dulu. Baru serahkan kepada Allah.

Wallahu’alam.
Sumber : Ahmad Sofyan Hadi

Originally posted 2022-03-05 15:56:45.