Ini adalah Jebakan Prasangka bagi Manusia

Jebakan Prasangka
Kenyataannya kita tak mengenali prasangka kita sendiri, atau merasa sudah berprasangka baik padahal itu adalah prasangka buruk.

Prasangka itu apa sih?

Prasangka adalah keselarasan ucapan, perasaan, dan pikiran. Sederhananya saat seseorang shalat, ia memfokuskan pikiran pada (ingatan) bacaan shalat, ucapan mengucapkan bacaan shalat, lalu hati mengikuti bacaan itu.

Kita menyebutnya khusyu.

Itulah prasangka.

Bila hanya ucapan saja, sementara pikiran tidak fokus dan hati pun tak menentu rasa, ini bukan prasangka. Atau prasangkanya belum utuh.

Hal yang menarik, kita seringkali memprasangkakan hal buruk tapi dianggap baik. Lalu ketika realitas hidup tak menyenangkan, serta merta menyalahkan orang lain atau malah Allah.

Contohnya begini, seseorang memiliki keyakinan “saya bahagia bila kaya raya” maka tak sadar ia membatasi cara untuk bahagia.

Bernafas lega tidak membuatnya bahagia.

Sehat wal afiat tidak membuatnya bahagia.

Ilmu yang bermanfaat tidak membuatnya bahagia.

Keluarga yang harmonis tidak membuatnya bahagia.

Satu-satunya hal yang membuat bahagia adalah “kaya raya” dan pikiran pun tahu dia belum kaya raya, maka tak sadar dia memprogram pikiran untuk merasa MENDERITA.

Jadi ada saja penderitaan atau ketidakpuasan yang ia alami.

Itu baru perasaan.

Sekarang ucapan, banyak diantara kita yang percaya “aku tidak punya uang, aku tidak baik-baik saja, atau aku sedang sakit.”

Ucapan ini berkaitan dengan pikiran, jadi pikiran percaya REALITAS hidup memang seperti itu.

Kenyataannya, apa yang disebut realitas adalah sepanjang yang sedang kita alami. Sedang artinya berlangsung, bukan SUDAH, bukan TADI, bukan pula AKAN.

Satu detik yang sudah lewat, tidak bisa disebut sedang, tapi SUDAH. Lalu satu detik yang akan datang tidak bisa disebut sedang, tapi AKAN.

👍 TRENDING :   Menggunakan Kekuatan Perasaan

Dengan kata lain, SEDANG itu dibatasi satu detik yang telah lalu dan satu detik yang akan datang. Sempit sekali durasi sedang ini.

Kalau seseorang mengatakan “sedang sakit” sebenarnya itu adalah realitas masa lalu sampai beberapa detik yang lalu.

Sebab hakikatnya dia tidak tahu apakah di detik berikutnya akan tetap sakit atau sehat. Tapi PIKIRAN cenderung memprediksi “tetap sakit”.

Ucapan membenarkan dengan mengatakan, aku sedang sakit. Perasaan pun setuju. Jadilah prasangka bahwa ia sakit.

Sekarang siapa yang mau memprasangkakan diri sendiri “aku sedang dililit hutang?” Atau “aku lagi bokek?”

Itu sama saja percaya sekarang dan yang akan datang tetap di situasi itu. Allah senantiasa bersama prasangka hambaNya.

Allah bersama prasangka hambaNya, artinya setiap prasangka terwujud dengan kuasaNya.

Lalu kenapa memprasangkakan keberlimpahan tidak serta merta berlimpah?

Dimana salahnya sebuah prasangka?

Sadar dengan kesalahan prasangka sendiri adalah awal untuk memperbaikinya. Kita lanjutkan pembahasan prasangka di zoom meeting malam ini GRATIS.

Wallahu’alam
Sumber : Ahmad Sofyan Hadi
Founder BehinDsign
Penulis Buku Reset Hati Instal Pikiran

Originally posted 2022-03-05 16:00:21.