Kenapa Kita Harus Marah kepada Tuhan

Marah kepada Tuhan

Seorang peneliti mengundang beberapa puluh wanita untuk memilih kaos kaki yang dijejerkan di atas meja.

Mereka mesti menuliskan alasan memilih kaos kaki itu, ternyata berbagai alasan ditemukan seperti tekstus, bahan, dll.

Kenyataannya, kaos kaki itu sama, kecuali warnanya. Peneliti menyimpulkan, keputusan seseorang dipengaruhi oleh internal dirinya, bukan kenyataan eksternal adanya.

Seperti seorang wanita yang berbadan gemuk, dia mengadu kepada terapis untuk diterapi. Sebab sering ditolak lamaran kerja.

Kenyataannya, persepsi di dalam bahwa “aku jelek karena gemuk” yang membuat dia sering salah tingkah atau grogi saat wawancara.
Bukan karena perusahaan itu menolak setiap berbadan gemuk.

Persepsi “aku jelek karena gemuk” adalah persepsi yang ia terima dari teman-teman lelakinya waktu SD dulu. Tak sadar membuatnya merasa tak layak diterima.

Sama dengan anak kecil yang tidak mau makan buah, bukan karena realitas buahnya yang tidak enak, tapi persepsi internal si anak dimana persepsi ini akibat trauma dipaksa makan buah.

Kasus lain, seorang lelaki menyukai sesama jenis bukan karena realitas sesama jenis yang “hot” tapi persepsi internal dirinya yang terbentuk akibat kejadian di masa lalu.

Terakhir, seorang wanita marah kepada Tuhan karena dianggap jahat, tidak adil, serta berkhianat. Kemarahan ini bukan karena faktor eksternal Tuhan seperti itu, tapi karena persepsi internal dirinya yang terbentuk akibat kejadian di masa lalu.

Bagaimana cara menterapinya?

Setiap persepsi yang terbentuk adalah respon atas pengalaman yang dikodekan “tidak enak hati.” Jadi ada PENGALAMAN dan ada TIDAK ENAK HATI.

Misal melihat teman membeli mobil lalu hati menjadi “panas” alias iri. Kok dia yang sukses padahal aku yang bekerja keras? Lalu marah kepada Tuhan, merasa Tuhan tidak adil.

👍 TRENDING :   Beasiswa Kuliah S1 ASEAN-Maybank Scholarship Programme

Dia tidak melihat bahwa temannya pun kerja setiap hari, berdoa, dan membangun tim hingga ikhtiarnya terwujud. Tapi dia melihat diri sendiri, lalu menilai orang lain dan Tuhan dengan persepsinya sendiri.

Jadi bila benar-benar ingin terapi, temukan pengalaman pertama yang memicu “gak enak hati” lalu hooponopono sampai “enak hati” atau nyaman ketika memgingat pengalaman itu.

Otomatis persepsi berubah sendiri.

Bisa jadi, pengalaman itu tidak satu, tapi beberapa kejadian tapi ditumpuk. Maka perlu mencatat kejadian apa saja lalu hooponopono satu per satu.

Wallahu’alam.
Sumber : Ahmad Sofyan Hadi