Tujuan dan Cara Bisa Juga dalam Berbisnis

Tujuan dan Cara
Saat saya ingin istirahat full di rumah, itu adalah tujuan. Lalu ternyata saya sakit types sehingga benar-benar istirahat di rumah, itu adalah cara.

Itu kejadian waktu kuliah dulu.

Mirip dengan saya, seorang teman ingin ganti laptop dengan yang baru. Itu adalah tujuan.

Tak berselang lama, laptopnya hilang karena kemalingan. Otomatis ibunya membelikan laptop baru.

Itu adalah cara.

Kadang kita ingin suatu tujuan, lalu terjadi dengan cara yang tidak diduga. Iya tujuan tercapai, tapi tidak begitu maksud (caranya).

Contoh lain, ketika seseorang merasa tidak berharga, melihat diri sendiri tidak sempurna, tak sadar itu adalah tujuan.

Lalu dia bekerja keras untuk mencapai goals yang diinginkan, agar merasa berharga dan menjadi sempurna.

Kenyataannya, uang yang diperoleh tak pernah berhasil mewujudkan goals, sebab selalu habis lagi sehingga ia kembali merasa tak berharga, merasa tak sempurna. Ini adalah cara.

Tujuan tidak serta apa yang kita inginkan, tapi apa yang sering kita pikirkan. Saat kita ingin kaya, tapi sering memikirkan kemiskinan, kemiskinan itulah yang menjadi tujuan.

Kok bisa sering memikirkan kemiskinan? Biasanya karena takut menjadi miskin, takut meskipun sebuah perasaan, artinya membuat pikiran memikirkan hal yang ditakutkan.

Takut kecoa, memikirkan kecoa saat masuk ke kamar mandi. Benar?

Contohnya saya dulu.

Saya INGIN kaya, hidup damai, bersahabat, serta diterima. Lalu keluarga saya pernah mengalami perampokan karena dianggap keluarga terkaya di kampung waktu saya balita dulu.

Tak sadar, takut dirampok atau menjadi sasaran kejahatan menjadi sering dibayangkan. Akhirnya ada saja kejadian dimana saya jadi sasaran pemerasan, ditipu, atau malah boros karena merasa terancam saat menyimpan uang.

👍 TRENDING :   Rekomendasi tempat bukber di pontianak

Keinginan sadar bertentangan dengan perasaan yang dipedam.

Paham?

Jadi, apa perasaan yang kita pendam sehingga menjadi sumber imajinasi negatif di pikiran?

Kalau kita tak menyadari apa perasaan yang dipendam, itu wajar sebab sering tersembunyi alias terbiasa menyembunyikan perasaan.

Sejak kecil, mengungkapkan perasaan sering jadi sasaran kemarahan. Coba tebak, bila seorang anak SD kelas 2 mengatakan hal ini kepada ibunya, “Bu, aku malas ngerjain PR!”

Apakah ibunya akan mengorek alasannya sampai dapat, sampai anak menyampaikan alasannya, atau menekan dan memaksa anak untuk mengerjakan PR?

Kenyataannya, banyak orang tua tak sempat mengorek alasannya, tak punya banyak waktu. Benar?

Sekali lagi, wajar kalau kita tak mengenal perasaan sendiri, memilih memendam atau mengubur. Sudah terbiasa dari dulu.

Dampaknya merasa tak ada masalah, merasa punya tujuan baik, padahal menyimpan ketakutan atau rasa terancam.

Tak sadar, perasaan yang paling dipendam sering menghantui pikiran, sering terbayang-bayang di pikiran: menjadi tujuan untuk diwujudkan.

Ingin kaya tapi selalu kehabisan uang.

Ingin bahagia tapi selalu disakiti.

Ingin diperhatikan tapi malah dikhianati.

Paham kan alasannya?

Wallahu’alam
Sumber : Ahmad Sofyan Hadi
Founder BehinDsign

Originally posted 2022-03-05 16:29:29.