Cara Menarik Kekayaan Ketika Bahagia

Pagi Bahagia
Alhamdulillah ya Allah, pagi ini saya masih bisa mendengar suara mesin air, suara burung di pohon belakang rumah, dan suara ayam dari rumah tetangga.

Saya sangat bersyukur bisa melihat, membaca, bahkan memaknai tiap tulisan dan memahami maknanya. Semata-mata karena kasih sayangMu.

Saya pun bahagia masih diberi kesempatan membaca ayat-ayatMu di pagi hari ini, masih diberi kesadaran, kewarasan untuk mengingatMu sebelum ingat hal lain.

Ya Allah, saya memilih bahagia dan bersyukur pada pagi hari ini, menerima limpahan rezekiMu dengan penuh kesadaran, maka bimbinglah hamba ya Allah agar senantiasa dekat denganMu, ada dalam jalan yang Kau ridhoi.

Mengawali pagi dengan rasa bahagia dan rasa syukur adalah kekayaan yang tak bisa diraba dan diukur, saking tinggi nilainya.

Sebab rasa bahagia membuat dada terasa lapang dan rasa syukur membuat darah teraliri nutrisi untuk seluruh organ tubuh.

Saya tahu, ada beberapa orang yang skeptis dengan pernyataan ini, terutama yang sedang terlilit hutang atau merasa dihimpit masalah.

Hayooo ngaku, he…he…

Sebenarnya, hutang diawali dengan kata “terlilit” adalah sebuah metafora bahwa hutang membuat seseorang merasa terlilit.

Pun masalah diawali dengan kata “terhimpit” pun metafora menggambarkan betapa masalah yang ada membuat seseorang terhimpit.

Kata “terlilit” dan “terhimpit” adalah untuk menggambarkan kondisi sempit hati dan pikiran, kondisi terikat tak berkutik. Benar?

Lalu bagaimana mau membayar hutang bila hati dan pikiran sedang terikat tak berdaya? Ikhtiar apa yang bisa dilakukan manakala hati dan pikiran terjepit?

Dengan kata lain, seseorang terus menerus berada di masalah itu karena memang tak sadar memilih berada di situasi itu. Sekali lagi, tak sadar.

👍 TRENDING :   Pemilihan Kata Untuk Seorang Mental Wirausaha

Padahal, terikat dan terjepit hanyalah metafora, tapi jadi dirasakan benar adanya. Padahal kenyataannya nafas masih terhirup dan terhembus dengan lega, pikiran masih bisa membaca menemukan banyak inspirasi atau hidayah.

Maka saya memprioritaskan untuk meluaskan rasa syukur dengan menyebutkan nikmat Allah lainnya yang saya rasakan seperti bisa bernafas dengan lega.

Alhamdulillah.

Itu membuat pikiran semakin terbuka, bahwa masih banyak alasan untuk lega, leluasa, bebas merdeka, penuh inspirasi, penuh daya, serta berkuasa atas hidup sendiri.

Inilah modal untuk hidup, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, janji yang belum ditepati, atau hutang yang belum terbayar. Sekali lagi, modal itu adalah hati dan pikiran yang lega, leluasa, penuh inspirasi. Setuju?

Jadi pagi ini saya memilih bahagia, menerima rezeki Allah dengan penuh kesadaran dan suka cita. Saya memilih bahagia dan menarik sumber-sumber yang membahagiakan.

Alhamdulillah.
Sumber : Ahmad Sofyan Hadi