Kesesatan Berfikir Ketika Menjalankan Usaha

Kesesatan Berfikir
Semua lelaki adalah buaya darat.
Suami adalah lelaki.
Suami adalah buaya darat.

Kalimat diatas adalah contoh kesesatan berfikir karena salah di pernyataan pertama. Ada pun pernyataan kedua tidak salah, sebab memang suami adalah lelaki.

Tapi karena satu pernyataan yang salah, maka kesimpulannya salah. Inilah kesesatan berfikir.

Seringkali kesalahan itu karena menyamaratakan satu hal seolah-olah mewakili semua hal. Dalam keseharian bisa bermakna begini:

Semua pedagang pasti mengalami rugi.
Kamu adalah pedagang.
Maka kamu pasti mengalami rugi.

Banyak orang takut berdagang karena takut rugi, bisa karena barang dagangan tidak laku, bisa karena piutang tak tertagih, atau kehilangan tempat dagang.

Apa pun alasannya. Kenyataanya, tidak semua pedagang mengalami kerugian. Itu sebabnya banyak yang mau berdagang. Meskipun pernah rugi, tapi sebelumnya sudah untung banyak sehingga rugi tak seberapa, masih surplus.

Lagi pula, dagang tanpa ilmu sama seperti menyetir tanpa belajar, sudah pasti rugi. Jadi masalahnya adalah tidak belajar atau kurang ilmu, bukan berdagangnya.

Tapi karena pernyataan sesat diatas yang ditelan sebagian orang, masih saja yang percaya sehingga menghindari menjadi pedagang.

Lalu tentang analisa tanda tangan yang disamakan dengan ramalan atau meramal. Lalu meramal itu dosa. Maka menganalisa tanda tangan adalah dosa.

Ini pun kesesatan berfikir.

Sebab analisa tanda tangan tidak tahu kapan seseorang akan mati, kapan seseorang akan sakit, atau apa yang akan terjadi esok hari. Tidak tahu.

Itu sebabnya kami menolak menjadikan analisa tanda tangan sebagai cara merekrut karyawan, sebab kami tidak tahu apakah karyawan itu kelak akan baik atau tidak.

Jadi kami tidak meramal.

Bila Anda menangis lalu kedatangan tamu sehingga Anda berusaha menghapus air mata dan menemui tamu, tamu bertanya “apakah Anda habis menangis?” Pertanyaan itu bukanlah ramalan.

👍 TRENDING :   Cara Melepas Beban dan Emosi Negatif

Jadi menasehati tamu agar tidak meramal, atau menuduhnya sesat karena meramal, tanda si penuduh kurang ilmu. Sebab menangis itu sudah terjadi.

Pun analisa tanda tangan, hanya menceritakan apa yang sudah terjadi. Bahkan dalam sesi privat, semua analisa ditanyakan kembali apakah pernah mengalami ini itu? Sebab hakikatnya kami tidak tahu.

Tapi dari pemilihan simbol, artinya ada pola pikir tertentu di masa lalu, artinya ada kejadian tertentu yang melatari cara berfikir seperti itu.

Tapi kalau tetap memaksakan pendapat bahwa analisa tanda tangan adalah ramalan, atau pedagang pasti rugi, atau semua lelaki buaya darat, ya silahkan.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Aaamiin.

Wallahu’alam.